December 26, 2009

Guru di tengah kegalauan

Visi dan misi guru yang utama adalah ikut mencerdaskan generasi muda, bisa menghantarkan mereka sebagai manusia yang sukses. Itulah sebagian dari impian guru. Dengan dorongan mimpi ini, guru bisa berbekal ilmu dan semangat juangnya yang tinggi, menyumbangkan karya baktinya untuk membuktikan bahwa impiannya terhadap murid-muridnya bisa menjadi sebuah kenyataan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih diharap kecuali sukses yang dimiliki muridnya.

Niatan guru untuk menyumbangkan keberhasilan tidak selalu berjalan mulus seperti yang diimpikan. Ada saja persoalan yang membuat guru bersikap canggung dan berada dalam kegamangan sikap. Bermula dari diri guru sendiri, mereka banyak memiliki kekuarangan yang manusiawi sehingga tidak pernah menjadi sempurna seperti yang diharapkan banyak orang. Ungkapan "Guru kencing berdiri, murid kencing kencing berlari" misalnya, adalah salah satu sikap masyarakat yang sebenarnya menuntut kepribadian yang unggul di posisi guru. Mereka diwajibkan bisa menjadi sebuah teladan, yang bersih dari cacat dan ketidaksempurnaan. Guru wajib membenahi diri dari waktu ke waktu. Mereka tidak dibenarkan memberikan contoh-contoh yang salah kepada muridnya. Mereka harus bisa menjadi panutan.

Potensi guru perlu dikembangkan setiap saat. Hal ini tidak sejalan dengan kondisi sistem pendidikan secara makro. Banyak guru yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menajamkan potensi keguruan, yang bisa jadi terlalu sibuknya menambah jumlah jam mengajar agar bisa menambah penghasilan keluarganya. Guru lebih sibuk memenuhi kebutuhan finansial yang semakin berat dirasakan. Masih banyak lingkungan sekolah yang tidak mau mengerti tentang kebutuhan guru untuk mengembangkan potensi profesionalnya. Padahal, kalau kita mau cermat memahami, dukungan untuk guru bisa berasal dari koleganya, kepala sekolahnya dan juga pengawas sekolah. Kesempatan untuk meningkatkan tingkat kepedulian terhadap dunia pendidikan dari ketiga unsur pendukung tersebut tidak selalu muncul selayaknya. Banyak kesempatan yang terbuang sia-sia tanpa adanya komunikasi intensif dari unsur-unsur tersebut. Namun, tuntutan untuk peningkatan kualitas guru tidak pernah lepas sama sekali, meski apapun keadaan di sekolah dan sistem birokrasi pendidikan secara umum. Hanya secara impulsif saja wacana-wacana tentang pengembangan dimunculkan.

Harapan baru dibuka dengan adanya program sertifikasi guru. Masyarakat pendidikan begitu terkesima dengan program pengembangan profesi guru melalui jalur sertifikasi dan penilaian portofolio. Iming-iming yang ada adalah dengan tunjangan profesi guru yang belum pernah dibayangkan oleh guru selama ini. Profesional yang terlupakan dan tidak pernah mendapatkan 'tanda jasa' sekarang ini hendak disejahterakan dengan sebuah program yang terkesan sangat politis dan kurang terkoordinasi. Terjadilah polemik-polemik yang membuat sebagian guru bersikap apriori dan apatis tentang sertifikasi yang mereka sendiri giat untuk segera lulus dan mendapatkan tunjangan. Program ini penuh dengan ketidakpastian. Semua orang berharap, namun tidak bisa percaya seratus persen.

Share/Save/Bookmark

0 comments: