December 26, 2009

Guru di tengah kegalauan

Visi dan misi guru yang utama adalah ikut mencerdaskan generasi muda, bisa menghantarkan mereka sebagai manusia yang sukses. Itulah sebagian dari impian guru. Dengan dorongan mimpi ini, guru bisa berbekal ilmu dan semangat juangnya yang tinggi, menyumbangkan karya baktinya untuk membuktikan bahwa impiannya terhadap murid-muridnya bisa menjadi sebuah kenyataan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih diharap kecuali sukses yang dimiliki muridnya.

Niatan guru untuk menyumbangkan keberhasilan tidak selalu berjalan mulus seperti yang diimpikan. Ada saja persoalan yang membuat guru bersikap canggung dan berada dalam kegamangan sikap. Bermula dari diri guru sendiri, mereka banyak memiliki kekuarangan yang manusiawi sehingga tidak pernah menjadi sempurna seperti yang diharapkan banyak orang. Ungkapan "Guru kencing berdiri, murid kencing kencing berlari" misalnya, adalah salah satu sikap masyarakat yang sebenarnya menuntut kepribadian yang unggul di posisi guru. Mereka diwajibkan bisa menjadi sebuah teladan, yang bersih dari cacat dan ketidaksempurnaan. Guru wajib membenahi diri dari waktu ke waktu. Mereka tidak dibenarkan memberikan contoh-contoh yang salah kepada muridnya. Mereka harus bisa menjadi panutan.

Potensi guru perlu dikembangkan setiap saat. Hal ini tidak sejalan dengan kondisi sistem pendidikan secara makro. Banyak guru yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menajamkan potensi keguruan, yang bisa jadi terlalu sibuknya menambah jumlah jam mengajar agar bisa menambah penghasilan keluarganya. Guru lebih sibuk memenuhi kebutuhan finansial yang semakin berat dirasakan. Masih banyak lingkungan sekolah yang tidak mau mengerti tentang kebutuhan guru untuk mengembangkan potensi profesionalnya. Padahal, kalau kita mau cermat memahami, dukungan untuk guru bisa berasal dari koleganya, kepala sekolahnya dan juga pengawas sekolah. Kesempatan untuk meningkatkan tingkat kepedulian terhadap dunia pendidikan dari ketiga unsur pendukung tersebut tidak selalu muncul selayaknya. Banyak kesempatan yang terbuang sia-sia tanpa adanya komunikasi intensif dari unsur-unsur tersebut. Namun, tuntutan untuk peningkatan kualitas guru tidak pernah lepas sama sekali, meski apapun keadaan di sekolah dan sistem birokrasi pendidikan secara umum. Hanya secara impulsif saja wacana-wacana tentang pengembangan dimunculkan.

Harapan baru dibuka dengan adanya program sertifikasi guru. Masyarakat pendidikan begitu terkesima dengan program pengembangan profesi guru melalui jalur sertifikasi dan penilaian portofolio. Iming-iming yang ada adalah dengan tunjangan profesi guru yang belum pernah dibayangkan oleh guru selama ini. Profesional yang terlupakan dan tidak pernah mendapatkan 'tanda jasa' sekarang ini hendak disejahterakan dengan sebuah program yang terkesan sangat politis dan kurang terkoordinasi. Terjadilah polemik-polemik yang membuat sebagian guru bersikap apriori dan apatis tentang sertifikasi yang mereka sendiri giat untuk segera lulus dan mendapatkan tunjangan. Program ini penuh dengan ketidakpastian. Semua orang berharap, namun tidak bisa percaya seratus persen.

Share/Save/Bookmark

Antisosial

Mengenal lebih jauh tentang gangguan kepribadian, saya mengutip salah satu tipe gangguan psikologis yang berupa gangguan anti-sosial. Sekedar untuk mengetahui definisi, kutipan berikut ini cukup berarti:

Antisocial personality disorder is best understood within the context of the broader category of personality disorders.
A personality disorder is an enduring pattern of personal experience and behavior that deviates noticeably from the expectations of the individual's culture, is pervasive and inflexible, has an onset in adolescence or early adulthood, is stable over time, and leads to personal distress or impairment.
Antisocial personality disorder is characterized by a pattern of disregard for and violation of the rights of others. The diagnosis of antisocial personality disorder is not given to individuals under the age of 18 and is only given if there is a history of some symptoms of conduct disorder before age 15.
The severity of symptoms of antisocial personality disorder can vary in severity. The more egregious, harmful, or dangerous behavior patterns are referred to as sociopathic or psychopathic. There has been much debate as to the distinction between these descriptions. Sociopathy is chiefly characterized as a something severely wrong with one's conscience; psychopathy is characterized as a complete lack of conscience regarding others. Some professionals describe people with this constellation of symptoms as "stone cold" to the rights of others. Complications of this disorder include imprisonment, drug abuse, and alcoholism. Sumber


Share/Save/Bookmark

October 16, 2009

Berpolitik di sekolah, bukan sekolah politik

Faktor kepentingan pribadi, kelompok, organisasi, perusahaan dan yang lainnya bisa dicapai dengan sukses apabila pelakunya pintar berdiplomasi dan berpolitik. Meskipun adagium yang ada secara jelas mengatakan, "Di mana-mana politik itu kotor!", lembaga pendidikan pun bisa menjadi ajang berpolitik bagi seluruh warganya. Kondisi seperti ini sungguh menarik untuk dipelajari.


Secara kualitas dan kuantitas kita bisa berhitung tentang kekuatan politik di sekolah. Beberapa kepentingan dominan yang ada di sekolah adalah manajemen, staff dan guru, siswa dan orang tua. Secara kualitatif semua orang yakin bahwa pihak manajemen adalah yang paling berkuasa, disusul dengan kepentingan staff dan guru sebagai tim pelaksana. Pihak ketiga, siswa sering merupakan subyek penderita yang harus mematuhi semua aturan dan kebijakan sekolah. Orang tua dan juga masyarakat menjadi pihak luar yang terlalu besar kekuatannya, kecuali pada tingkat manajemen sekolah yang sudah sangat terbuka. Acara berpolitik sudah bisa terlaksana dengan hadirnya berbagai pihak yang ikut berpartisipasi di dalamnya, meskipun sungguh kita tahu betapa kecilnya populasi kepentingan di sana.

Berpolitik di sekolah bisa terjadi jika terjadi pergulatan kepentingan antara pihak yang berkuasa dengan warganya untuk memperebutkan pengaruh atau menuntut kesejajaran hak berkarya dan berdayaguna. Meskipun, mungkin banyak orang berpendapat tentang lugu dan polosnya para pekerja pendidikan, politik kecil-kecilan di sekolah bukan hal yang luar biasa. Contohnya, sering ditemui sesorang berusaha keras untuk mendapatkan posisi menjadi pimpinan sekolah baik dengan cara wajar atau kurang wajar. Untuk mendapatkan posisinya, seorang pelaku akan bersaing dengan orang-orang lain memiliki kepentingan sama. Hanya prinsip profesionalisme kependidikan saja yang bisa menjadi filter agar persaingan ini tidak cenderung brutal dan anarkis. Menjadi wakil kepala sekolah dan ketua tata usaha pun dilirik sebagai sebuah jembatan menuju tahapan yang lebih tinggi. Posisi lain mungkin juga diperebutkan dengan berpolitik secara profesional atau tidak profesional. Sementara itu, pihak-pihak siswa, orang tua dan masyarakat masih jauh dari kesempatan untuk masuk dan berkiprah di dalamnya.

Manajemen yang baik menyadari betul kondisi-kondisi faktual semacam ini. Memang banyak sekali terjadi konflik kepentingan di lembaga pendidikan. Prinsip memegang kekuasaan sekecil apapun akan jauh lebih baik daripada tidak sama sekali menjadikan pekerja pendidikan ikut latah berpolitik untuk memperebutkan jatahnya. Manajemen profesional tentu saja berusaha keras merangkul semua pihak di sekolah agar ikut berpartisipasi aktif dalam membangun sekolah yang efektif. Meski tetap menganjurkan sifat kompetitif kepada semua pihak agar terus bekerja keras menjadi yang terbaik, pemimpin yang baik dan profesional akan cenderung untuk bisa mewadahi semua kepentingan di sekolah yang tidak terlalu besar secara kuantitas. Tidak dibenarkan apabila seorang pimpinan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok yang mendukungnya agar justru kepemimpinan berjalan langgeng. Komunitas pendidikan akan berjalan efektif bila manajemen bisa membuat semua pihak saling bantu membantu untuk merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan kepentingan bersama di sekolah. Konflik kepentingan terlalu menonjol di sekolah justru membuyarkan harapan semua pihak yang peduli dengan program pendidikan.

Benarkah politik di sekolah itu memang ada?
Share/Save/Bookmark

October 15, 2009

Personality where to find

Mungkin suatu saat kita membutuhkan berbagai informasi yang terkait dengan kepribadian dan tidak tahu harus mencarinya dimana. Untuk sementara saya melihat pentingnya kita belajar dari link berikut ini:

Personality



Share/Save/Bookmark

September 25, 2009

Ini persoalan hati

Saya tidak memaksakan keinginan. Perjalanan hidup ini biasanya saya jalani apa adanya tanpa berusaha untuk mendapatkan semua keinginan saya. Lebih banyak mengalah dan tidak terlalu menghindari apapun tantangan yang ada di depan sana. Orang melihat saya sebagai orang yang super cuek dan lebih sering dianggap menantang resiko.

Kalau sudah tidak suka terhadap apapun saya cenderung berterus terang dan tidak bisa menyembunyikan perasaan. Ini yang menjadi ciri khas sehingga saya sering dianggap selalu berkata 'vulgar'. Sebenarnya saya tidak bermaksud menyinggung perasaan orang lain. Tetapi karena berbeda persepsi tentang gaya hidup dan pergaulan saya menjadi lebih sering membuat orang lain mundur dan tidak mau terlalu akrab dengan saya.

Hati saya terlalu peka dan tidak kenal kompromi terhadap kebatilan. Mereka peka juga, tetapi mereka masih mampu menahan diri untuk tidak usah mengutarakan apapun yang mereka anggap tidak pas. Mereka lebih berharap bahwa dengan cara tersebut mereka bisa merasa aman dan mendapatkan keuntungan meskipun sedikit. Sakit, sesakit apapun hati mereka, tidak pernah terungkap dalam protes-protes sosial mereka.

Share/Save/Bookmark

August 3, 2009

Guru sebagai mesin sekolah

Menjadi guru yang profesional sungguh selalu menjadi impian para guru. Ketika sudah memilih berkarya di lingkungan pendidikan, guru tentu saja harus mengenali fungsi, peranan, tugas dan tanggung jawabnya membimbing peserta didiknya agar bisa menjadi orang-orang yang sukses di masa mendatang. Fungsi dan peranan guru dikatakan sebagai agen perubahan dunia, lantaran begitu pentingnya keberadaan mereka selalu di samping para peserta didik dalam membimbing, mengarahkan, meluruskan dan menunjukkan perubahan perilaku yang diidamkan bagi generasi muda. Tugas dan tanggung jawab mereka sangat besar dan mulia, meskipun tidak selalu bareng atau bermula dari imbalan jasa yang layak guna memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga mereka. Itulah para pahlawan tanpa tanda jasa. Guru profesional, selain bisa memenuhi standar kualifikasi dan kompetensinya, wajib mengikuti perkembangan trend kependidikan supaya mutu pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas atau di lingkungan sekolah bisa diandalkan. Guru yang profesional tidak pernah berhenti meningkatkan kualitas keilmuannya.

Dalam tatanan administrasi pendidikan di sekolah, guru adalah "mesin-mesin sekolah" yang berada di garis depan dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan kurikulum sekolah. Istilah "mesin sekolah" ini baru saya dengar pada saat rapat dinas tanggal 1 Juli 2009 di aula sekolah di Bojonegoro. Saya sangat tidak sependapat dengan istilah ini. Sungguh menyakitkan bila analogi untuk guru disamakan dengan sebuah mesin. Apalagi ketika pembicaranya menyatakan bahwa guru harus merawat mesinnya dengan baik. "Kalau mesinnya rusak, sebaiknya dibuang saja. Daripada diperbaiki, tentu menghabiskan biaya yang banyak, maka guru yang seperti mesin yang rusak ini dibuang saja. Beli yang baru!" Guru yang dibuang berarti dikembali kepada unit atau kantor yang menetapkan jabatan guru kepada yang bersangkutan--bisa departemen agama maupun departemen pendidikan nasional. Perlakuan terhadap guru semacam ini sungguh sangat menyedihkan dan tidak memenuhi etika dunia kerja.

Guru tetap saja manusia. Sikap profesional guru yang profesional justru muncul ketika rasa kemanusiaan masih dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan.

Share/Save/Bookmark

June 28, 2009

Komunikasi yang hilang di sekolah

Pentingnya komunikasi yang efektif di sekolah sangat dirasakan pada sistem manajemen sekolah. Keunggulan sekolah dengan berbagai programnya hanya bisa berkembang dengan baik apabila komunikasi yang efektif dibangun dengan apik. Komponen sekolah yang terdiri dari siswa, guru, staff dan kepala sekolah adalah posisi-posisi yang saling membutuhkan, dan hanya bisa terjalin hubungan kerjasama yang baik bilamana komunikasi di antara mereka berjalan lancar.

Siswa adalah konsumen dari layanan pendidikan yang disediakan di sekolah. Guru, staff dan kepala sekolah pemberi layanan terhadap kepentingan siswa untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

Share/Save/Bookmark

Ketika sekolah menjadi komoditi bisnis

Sekolah adalah lembaga formal yang berfungsi untuk menyelenggarakan program-program pendidikan. Di dalam sekolah kepala sekolah berserta manajemen sekolah yang dipimpinnya siap memastikan penyelenggaraan program pendidikan bisa dijalankan sesuai visi dan misi sekolah. Dalam banyak studi, peranan penting dari kepala sekolah bisa menentukan berhasil atau tidaknya program-program sekolah.

Posisi kepala sekolah sebagai manajer puncak merupakan incaran banyak pihak yang memiliki kepentingan baik untuk

Share/Save/Bookmark

June 6, 2009

Jangan marah-marah Pak Guru!

Menghadapi siswa yang bandel sudah menjadi menu sehari-hari bagi seorang guru. Dalam satu hari mengajar bisa dipastikan akan terjadi satu perbedaan persepsi antara guru dan siswa. Konflik muncul lantaran siswa tidak cocok dengan cara guru mengajar, atau sebaliknya guru menjadi tersinggung dengan sikap siswa yang tidak mau mengikuti pelajaran dengan baik. Keduanya merasa yakin dengan sikapnya masing-masing.

Apapun alasannya, sikap marah guru tidak dibenarkan. Tugas guru kan mengajak siswa untuk berubah sikap, terutama terhadap kegiatan belajar. Kalau siswa ternyata, karena sudah merasa dewasa, melakukan sesuatu untuk menunjukkan identitas dirinya maka sudah layak kalau guru bersikap menerima dan mau memahami. Guru boleh menganggap bahwa siswanya tidak ingin mematuhi aturan di kelas. Namun dari sinilah guru bisa bercermin tentang kegiatan mengajar yang direncanakan dan dijalaninya. Mungkin juga perlu ada kompromi tentang kegiatan di kelas.

Share/Save/Bookmark

December 18, 2008

Saat beristirahat


Saat istirahat dan menunggu jam pelajaran dimulai lagi, siswa bisa melakukan apa saja yang tidak membebani pikiran mereka. Ada siswa yang bermain sepak bola. Ada yang masuk ke KOPSIS dan sekedar beli makanan dan minuman. Ada yang sekedar berdiri sambil ngobrol dengan temannya. Posisi berdiri pun suka-suka mereka karena setelah ikut sholat berjamaah di masjid, mereka santai sejenak.

Pelajaran baru akan dimulai setelah bel masuk dibunyikan.

October 28, 2008

Makna teamwork yang kuat

Jangan pernah membayangkan bahwa sukses memimpin hanyalah karena kita memiliki jabatan. Ketahuilah bahwa kepemimpinan yang baik selalu dibarengi dengan perekrutan orang-orang yang hebat dalam bidangnya masing-masing. Seorang pemimpin merupakan navigator yang berusaha mengarahkan laju kapalnya ke pulau harapan. Adalah tugas utamanya untuk cermat memilih dan memilah posisi yang sesuai dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ada empat prinsip yang perlu kita kaji lebih dalam sesaat kita berusaha menyelaraskan program kerja organisasi dengan orang yang hendak menanganinya:

  1. Anda tidak berubah, yang berubah adalah pengetahuan anda
  2. Tidaklah mudah menemukan kondisi yang sempurna dalam organisasi
  3. Cara terbaik dalam mengevaluasi kinerja organisasi adalah dengan mengawasi proses kerjanya ketika sedang dijalankan
  4. Jangan pernah memilih orang yang tidak sesuai dengan keahlian yang diperlukan

Memiliki visi dalam memimpin

“Good leaders make people feel that they're at the very heart of things, not at the periphery. Everyone feels that he or she makes a difference to the success of the organization. When that happens people feel centered and that gives their work meaning.”
Warren Bennis

Ada pendapat bahwa tidak semua orang yang memegang jabatan bisa dianggap sebagai pemimpin. Mungkin mereka hanya disebut sebagai manajer, pengelola atau pengatur. Kepemimpinan tidak selalu dimiliki oleh semua orang meskipun pernyataan lain sering kita berbunyi: "Kalian masing-masing adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawabannya." Mengapa persoalan sampai demikian bertentangan?

Syarat minimal pemimpin yang baik seperti yang dikatakan oleh Warren Bennis menjelaskan sebuah pandangan bahwa pemimpin harus mampu mengajak orang-orang di sekitarnya kepada persolan yang memang penting dalam meraih sukses organisasi. Pemimpin harus memiliki ciri khusus yang berbeda dari yang lain. Ciri khas seorang pemimpin biasa dinamakan visi. Dengan visi seorang pemimpin, maka organisasi yang dibentuk, sekecil apapun organisasinya, akan memiliki arti.

Kalau terjadi kondisi sebaliknya, bukan hanya pemimpin itu sendiri yang gagal. Semua orang yang terlibat di dalam organisasi akan merasakan kegagalan yang sama. Jalan mereka tidak ada arah dan tujuan. Benar kalau dikatakan, apabila sebuah urusan tidak dipegang oleh ahlinya maka tunggulah saatnya!



Buku "Fire Them Up"

Buku dengan judul “Fire Them Up!” oleh Carmine Gallo memberikan gambaran tentang penting inspirasi dalam successful leadership. Dari bagianpertama saja kita bisa mengambil pelajaran tentang 7 rahasia sederhana untuk sukses memimpin.

“Our chief want is someone who will inspire us to be what we know we could be” – Ralph Waldo Emerson

Memacu antusiasme -- Letupkan percikan semangat di hatimu sebelum muncul di dalam hati mereka.

Inspirasi mulai dari dalam. Apa saja pendorong semangat anda? Setelah mengenali unsur-unsur pendorong semangat pribadi, barulah anda bisa yakin untuk mampu memotivasi orang lain.

Tetapkan tujuan -- Berikan visi yang spesifik, konsisten dan mudah diingat

Antusiasme membuka jalan, tetapi visi mampu menarik perhatian dan membawa mereka ke suatu pandangan. Visi yang membingungkan tak akan sanggup memberi masa depan yang cerah. Agar sebuah visi bermanfaat, kesederhanaan dan ketulusan diperlukan. Bagaimana keduanya bisa dicapai? Buatlah visi anda sesingkat mungkin, sepuluh kata atau kurang…. If you can articulate a compelling vision of the world that is specific, consistent, and memorable, you will not only have grabbed their attention, but you will have captured their hearts. And where their hearts lead, their minds are sure to follow.”

Chapter 3: Sell the Benefit – Put Your Listeners First

“Make no mistake: When you speak, your listeners are asking themselves on question: What’s in it for me? It’s the one question that should be answered not once, but throughout your communication."… To inspire your listeners, constantly ask yourself, ‘What am I selling?’ Think about it this way: Apple does not sell computers. It sells tools to unleash human potential. Starbucks does not sell coffee. It sells an experience, a ‘third place’ between home and work…. What are you selling?…. They are buying benefits not products.”

Chapter 4: Paint a Picture – Tell Powerful, Memorable, and Actionable Stories

“Inspiring individuals sell themselves, their vision, and their values by turning their message into a story that piques your interest, keeps you entertained, makes it easy to remember key points, and, above all, leads you to take some sort of action. Your message is not your story… Persuading individuals to follow a desired course of action requires an emotional engagements with the listener… ‘Stories speak to both parts of the human mind – its reason and emotion,’ writes Howard Gardner.”

Mengajak untuk berpartisipasi

“Mendengar saja tidak cukup. Mengundang umpan balik, dan melakukan tindakan berdasarkan apa yang kita dengar, jelas berbeda.”

Penguatan dan pandangan yang optimis

“Para pemimpin, untuk beberapa alasan, melihat masa depan yang terang di dalam selimut kabut yang sangat tebal … Seperti Marcus Buckingham yang menjelaskan dalam The One Thing You Need to Know, ‘Kebalikan dari seorang pemimpin bukan seorang pengikut. Kebalikan dari seorang pemimpin adalah orang bersifat pesimis.’ Keterkaitan antara optimisme dan inspirasi bersifat langsung dan cepat: Berpikir dengan optimis bisa membuat kita menganggap baik diri kita sendiri. Berbicara dengan optimis akan memberikan keyakinan kuat kepada orang lain untuk mengikuti visi kita sebagai pemimpin.”

Menumbuhkembangkan potensi

“Manusia berhubungan dengan manusia, bukan dengan benda. Dan pujian yang paling indah yang bisa kita dapatkan dari orang lain adalah ketika mereka bilang: "Anda telah membuat saya berjuang untuk menjadi orang sukses .... " Motivasi adalah mewujudkan kondisi terbaik pada orang tersebut, tetapi mereka tidak akan mendengarkan nasehat anda kecuali bila mereka tahu anda peduli.”

Singkatnya...

Buku ini enak dibaca dan menarik. Setiap bab penuh dengan contoh-contoh yang tentang bagaimana prinsip-prisip yang dipaparkan bisa diterapkan di dunia nyata. Melihat pentingnya inspirasi yang membawa sukses para pemimpin, buku ini bisa memberikan ide-ide cemerlang. 

Kunci, prioritas sukses manajemen sekolah?

Agak menggelitik hati. Rasanya aku mau tertawa ngakak. Di lingkungan sekolah, harusnya kepala sekolah cukup cermat memilih orang untuk diserahi tanggung-jawab sekecil apapun. "Serahkan semua urusan kepada yang ahli." Tujuannya cukup jelas. Agar kinerja sekolah menjadi semakin efektif. Pada saat urusan-urusan vital tidak diserahkan kepada mereka yang cukup ahli di bidang yang akan ditanganinya, situasinya tergantung pada seberapa cepat orang barunya belajar. Atau, perlu dipertanyakan, apakah orang tersebut mau belajar.

Aku bukan anti perubahan. Sebabnya, status quo juga tidak selalu mapan dan efektif bila proses kontrol dan evaluasi tidak berjalan dalam sebuah manajemen pendidikan. Kepala sekolah boleh diganti. Wakil kepala sekolah tidak selalu orang-orang yang sama. Pengelola urusan-urusan di dalam sekolah perlu juga penyegaran. Semuanya mungkin terjadi. Terlalu percaya kepada orang-orang lama juga tidak menjamin sekolah menjadi efektif.

Persoalan yang menggelikan di lingkungan sekolah kita adalah terciptanya miskomunikasi dalam pengelolaan sekolah. Perencanaan dan pelaksanaan program tidak seimbang dan terkontrol. Lucu sekali, bila kemudian ditunjuk seorang koordinator laboratorium yang baru, dan dianya buta terhadap kondisi faktual di laboratorium. Tanpa mengenali seluk beluk pengelolaan laboratorium yang efektif, ternyata program pertamanya hanyalah mengganti 'kunci' dari pintu-pintu laboratorium, meski yang lama masih berfungsi. Layanan laboratorium pun tidak terlalu mendapatkan perhatian.

October 27, 2008

Websites for Educators


Searching for teaching materials or anything related to teachers may be tiring. Luckily, my search results in a good website now. This website focuses on educational matters.

You can follow my steps to browse and surf in the web.

Kenangan manis di Sarangan

Tak ada yang lebih menggembirakan hati kecuali ketika kita bisa saling berkumpul dan berbagi rasa. Ada banyak yang bisa diungkapkan dalam kehidupan ini. Bahagia, senang, gembira atau sebaliknya sedih, duka dan nestapa.

Di Sarangan adalah tempat ketika kita semua berkumpul. Apakah benar kita sedang berbagi rasa di sana? Selain dari kenyataan di pertemuan itu, indahnya Sarangan menjadi momen abadi.

Bayang-bayang indahnya membuat anakku selalu menyebut Sarangan dalam pembicaraan sehari-hari. Dalam hatiku bicara, "Beginilah kalau jadi guru, anak dan istri jarang diajak pergi untuk wisata. Andaikan guru memiliki banyak uang, mungkin wisata bukan hanya sekali dalam beberapa tahun!" Aku berjanji lebih keras bekerja agar bisa membuat mereka bahagia. Aku juga bermimpi agar bisa membawa mereka keliling ke berbagai tempat wisata dan menikmati hidup bagai di surga.



Lihat album foto Sarangan!

October 25, 2008

Eurika, here is Tuban beach near WBL

In my eyes this picture is lovely. The wheather was sunny and hot. My family and I were all in the car. I took this picture while driving to Wisata Bahari Lamongan. This resort is quite popular in East Java. Thousands people come and go to the place.


Years ago, only Tanjung Kodok which was known by people. Later, Maharani Cave became a deposit. Now, people fave a modern Wisata Bahari Lamongan.

Mestikah aku menjauh

Ada perubahan dalam diriku. Hal ini terjadi sejak seseorang yang pada saat itu menjabat menjadi kepala sekolah menuliskan es-em-es yang menyalahkan kegiatanku menuliskan sesuatu di blog. Prinsipnya, blog yang aku bangun adalah blog untuk berpikir dan berbicara. Aku boleh menanggapi persoalan apa saja di lingkungan hidupku, termasuk yang lekat dengan pekerjaanku sebagai guru. Kondisi manajemen sekolah yang mendorong semangatku menulis di blog. Dan, pada akhirnya tulisan yang aku buat dibacanya. Kepala sekolah marah-marah. Katanya, aku terlalu banyak menyakiti orang lain mulai dia sendiri, guru, karyawan dan murid-murid di sekolah. Dengan marah pula dia menyebarkan informasi serta persoalan yang dipikirkannya tentang aku. Begitu marahnya, akhirnya dia berusaha menuliskan sebuah surat laporan ke kantor departemen agar aku dipindahkan entah kemana.


Aku tidak terlalu menanggapi kejadian itu. Tetapi banyak orang di sekitarku yang memancing omongan tentang laporan tersebut. Aku hanya diam. Pasalnya bagiku tidaklah pantas seorang atasan berusaha menyelesaikan persoalan yang terjadi dengan bawahan hanya melalui gunjingan dan es-em-es. Aku maunya diajak bicara. Selama kasus itu muncul, dan ketika aku bertemu dengan dia, persoalan yang merenggangkan hubunganku dan dia tidak dibahas. Kami bertemu dan membicarakan masalah-masalah yang lain. Mengapa dia tidak bersikap terus terang? Aku tidak mengerti. Kasus berlanjut, surat terkirim dan kitanya masih bersitegang untuk beberapa saat lamanya.

Aku tidak berusaha untuk menjelaskan apa-apa yang aku tuliskan di blog. Biarkan dia sendiri yang mencari, meski dia atasanku.

Tak perlu berkomentar

Yang jelas sudah terlalu banyak orang pinter di sekeliling kita. Dengan latar belakang yang tidak selalu sama, masing-masing bisa memilih peranan apapun yang menurut dia bagus dan benar. Lihat saja apa yang terjadi. Kali ini bukan tanggung jawab kita untuk bersuara. Posisi diri sebagai pengamat, tapi jangan sekali-kali berkomentar.


Banyak resikonya kalau kita nanti ikut menyumbangkan suara sumbang. Kondisi sekolah kita--kepala sekolahnya, wakil kepalanya, guru-gurunya, karyawan dan siswa baru tahapan tertatih-tatih mencari pijakan yang pas untuk menguak tabir sukses menjadi sekolah unggulan. Potensi kita punya. Gagasan, ide dan pemikiran ke arah yang lebih baik bermunculan dari sana-sana. Alur komunikasi yang belum lancar. Kita membutuhkan operator handal untuk menyalurkan segala macam informasi dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari samping kiri ke kanan, dari kanan ke kiri serta bagaimana cara memutarnya menjadi pusaran yang nyata dan kuat. Tanpa kontrol dan pengaturan yang baik tentunya kesemuanya itu hanya merembes dan bocor lalu hanya menjadi gosip, gosip dan gosip. 

Kita membutuhkan petani yang bisa memilah-milah ide-ide cemerlang  kemudian membawanya ke tempat persemaian yang subur. Hanya menampung gagasan tidak terlalu bermakna. Ide dan pemikiran yang baik dan bermunculan dengan subur harus dipupuk, disiangi dan dirawat dengan baik agar tidak lantas mati mendadak. Petaninya harus  mampu menata dengan apik bedengan-bedengan yang akan digunakan untuk membesarkan benih tersebut. Pengairannya harus pula diupayakan secara nyata. Cari pula trik-trik yang pernah digunakan oleh para petani yang sudah terbukti sukses.

Tak perlu komentar. Sekolah ini hanya membutuhkan karya nyata, dengan semangat dan jiwa mendidik,  sehingga bukan perselingkuhan yang lantas subur adanya. Bukan kawan bukan lawan, inilah suaranya ketika guru bicara.




October 24, 2008

Mampu berkata tidak

Satu pelajaran sederhana dalam hidup yang bisa kita terapkan dalam perilaku kita sehari-hari adalah 'mampu berkata tidak'. Mengapa pelajaran ini penting di sini? Sebab banyak sekali orang yang tidak berani mengutarakan pendapat dan pandangannya, dan karena khawatir dikatakan tidak mengikuti kemauan pimpinan atau musyawarah, dengan serta merta ia akan mengiyakan beberapa pilihan atau ketentuan yang sudah diajukan. Akhirnya, konsekuensi dari pernyataan itulah yang menjadi bumerang dalam perjalanan hidup sehari-hari ataupun karirnya.


Keberanian berpendapat dan konsisten dengan pendapat yang sudah mengemuka menjadi faktor terpenting dalam proses bersosialisasi dengan komunitas formal maupun informal. Banyak yang tidak memahami pentingnya persoalan ini. Lantaran tidak faham, misalnya, seseorang akan berkata: "Ya, terserahlah. Silahkan dicoba dulu. Nanti kita pertimbangkan kemudian". Ini biasa yang diucapkan oleh pimpinan yang ingin bersikap demokratis dan memberi tempat untuk salah satu usulan yang ada. Sikap ini saya anggap keliru. Karena sebuah komunitas sekecil apapun memiliki tujuan dan harapan, janganlah sebuah keputusan dilakukan dengan dasar coba-coba. Dalam bahasa kerennya, kita perlu merujuk sumber-sumber yang lebih baik dan bisa dipercaya dan harus memperhatikan dampak lingkungan (amdal) dari keputusan yang akan ditetapkan. Sebuah keputusan jangan diterapkan dengan ungkapan, "Ya, silahkanlah. Saudara yang lebih ahli dalam hal ini." Kita harus tahu lebih banyak analogi dan rasionalnya pandangan dan usulan yang dikemukakan oleh seseorang.

Dalam posisi sebagai bawahan, layaknya juga kita selalu waspada dengan ketentuan yang muncul dari pihak pimpinan. Tidak bermaksud menentang terhadap semua kebijakan yang ada, namun lebih kepada menimbang kemampuan pribadi dan komunitas untuk menjalankannya. Kalau seluruh anggota komunitas menyetujui apa saja yang sudah dibicarakan oleh pimpinan

October 22, 2008

Mulai dari diri sendiri

Maukah anda memahami keadaan orang yang tidak mau menuruti pandangan-pandangan yang sudah susah payah anda utarakan kepadanya. Orang yang bersangkutan tidak mau menurut hampir semua pandangan anda. Hal ini bisa jadi terjadi di lingkungan kecil, yaitu keluarga kita sendiri. Anda bicara, tetapi istri atau anak anda tida mau mengerti. Apakah anda masih bisa memahami penolakan mereka?

Kondisi seperti ini dianggap sangat wajar dan biasa terjadi dalam budaya berkomunikasi yang kita kembangkan. Bisa jadi ketika kita masuk ke dunia kerja yang jelas lebih besar dari sekedar lingkungan keluarga. Penolakan orang-orang di sekitar terhadap apa-apa yang kita pikirkan sangat menyakitkan hati dan membuat kita kecewa serta frustasi.

Ungkapan yang sering muncul orang lain membantah pandangan kita bisa diutarakan seperti: "Kamu sendiri bagaimana?!" Atau dengan jelas dikatakan, "Gagasan yang bapak sampaikan memang bagus, tapi kondisi kita kali ini belum memungkinkan untuk melaksanakan program yang semacam itu." Anda sedikit ngotot tentang baiknya pendapat anda. Mereka pun lebih sigap untuk menolak. Anda berkeyakinan kalau mereka tidak mau menerima pandangan orang lain dan selalu bersikukuh dengan kondisi-kondisi yang sudah lama berjalan. Perubahan yang selalu harapkan pun tidak kesampaian.

Sikap positif dalam menerima pandangan orang lain tidak selalu muncul komunikasi antar manusia. Tidak selalu ada sambutan baik kepada ide-ide yang baru muncul dan belum terbukti. Inilah yang terjadi kelompok sosial yang baru mengalami proses pendewasaan--artinya mereka belum begitu dewasa. Pertanyaannya adalah: bagaiamana kita menghadapi kondisi semacam ini?

Mulailah dari diri sendiri



Disiplin di sekolah

Apakah anda merasa berdisiplin dalam mengelola sekolah? Bagaimana anda menerapkan disiplin di sekolah anda? Bagaimana cara anda anda memunculkan peraturan yang harus dipatuhi banyak siswa dan guru? Apakah disiplin yang anda terapkan tidak memiliki dampak psikologis bagi warga sekolah--termasuk guru, karyawan dan siswa anda?

Berdisiplin di sekolah memiliki konteks pembelajaran kepada seluruh warga sekolah tanpa adanya pengecualian. Adagium bahwa guru itu digugu dan ditiru sangat berlaku di sini. Sementara itu, setiap item peraturan yang muncul dalam wacana persekolahan dan kemudian diterapkan dalam kehidupan budaya sekolah, seyogyanya dibahas dalam musyawarah warga sekolah. Penerapan sebuah peraturan di sekolah sangat membutuhkan legalitas warga sekolah. Proses ini menjadi suatu bagian yang memanusiakan warga sekolah dan memberikan nilai positif terhadap wujud keberadaan mereka berkiprah di sekolah anda.

Apakah persoalan ini menjadi bahan pemikiran anda sendiri atau seluruh warga sekolah?

Study Banding

Berbagai sekolah unggulan menjamur di negara ini. Para manajer sekolah berlomba-lomba ikut memberikan label tertinggi untuk sekolahnya. Standar tertinggi untuk sekolah unggulan adalah bila sudah menyandang label 'standar internasional', dan di bawahnya ada label 'standar nasional'.

Sekolah yang bukan unggulan harus cukup sadar diri untuk puas dengan label terdaftar atau diakui. Usaha mati-matian untuk mendulang label tertinggi bagi sekolah yang memang tidak ada proyek 'sekolah unggulan' masih jauh dari jangkauan.

Para manajer sekolah yang memiliki antusiasme tinggi akan rajin mengadakan study banding ke sana dan ke sini. Berapa pun biaya study banding yang dilaksanakan, harus disedikan. Para manajer sekolah menikmati perjalanan study banding dengan berbagai fasilitas sekolah mulai transport, akomodasi dan uang saku. Semua fasilitas tersebut akan masuk ke dalam kantung pribadi dan team.

Bagaimana hasil dari study banding tersebut? Semuanya mungkin dicatat dan dipak dalam benak dan buku pribadi anggota team study banding. Bagaimana hasil-hasil study banding tersebut dilaksanakan? Semuanya terserah kepada pimpinan team. Apakah study banding itu bisa memberikan dampak positif kepada sekolah? Semua terserah kepada komunitas sekolah dan visi serta misi kepala sekolah.

Study banding adalah proses menggali ilmu khusus tentang kelebihan sekolah lain. Yang akan didapatkan dalam study banding adalah informasi-informasi penting yang sebenarnya bisa digali di lingkungan sekolah asal. Study banding harusnya menjadi proses penggalian yang utuh dan tidak disisipi dengan niatan mengambil keuntungan tidak populis--cuma jalan-jalan misalnya. Hasil study banding perlu diselaraskan dengan kondisi riil di sekolah dan kemudian diimbuhi dengan perencanaan-perencanaan matang tentang apa dan bagaimana program ke depan akan dijalankan. Kalau study banding hanya menjadi bahan obrolan, sebaiknya tidak usah saja. Misalkan study banding belum bisa menciptakan pelangi di sekolah asal perlu diselidiki apa yang sebenarnya 'missing' dalam pelaksanaannya.

October 17, 2008

Suara Guru


Penting sekali menyaksikan guru bisa bicara. Apa yang harus dibicarakan guru bukan hanya yang menyangkut pelajaran, buku dan siswanya saja. Guru adalah intelek yang berhak mengutarakan suara hatinya. Guru harusnya menjadi manusia merdeka yang mampu memiliki pikiran dan gagasan yang merdeka.

"Blog Suara Guru" menjadi lambang kebebasan pikiran saya. Adalah misi personal saya untuk menyuarakan suatu perspektif tersendiri yang lebih tentang pendidikan, budaya, sosial, politik dan bahkan kehidupan sehari-hari dalam kehidupan guru. Namun, perlu dicatat bahwa tulisan dalam blog ini tidak terlalu ingin menggambarkan cerita-cerita pribadi.