Menjadi guru yang profesional sungguh selalu menjadi impian para guru. Ketika sudah memilih berkarya di lingkungan pendidikan, guru tentu saja harus mengenali fungsi, peranan, tugas dan tanggung jawabnya membimbing peserta didiknya agar bisa menjadi orang-orang yang sukses di masa mendatang. Fungsi dan peranan guru dikatakan sebagai agen perubahan dunia, lantaran begitu pentingnya keberadaan mereka selalu di samping para peserta didik dalam membimbing, mengarahkan, meluruskan dan menunjukkan perubahan perilaku yang diidamkan bagi generasi muda. Tugas dan tanggung jawab mereka sangat besar dan mulia, meskipun tidak selalu bareng atau bermula dari imbalan jasa yang layak guna memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga mereka. Itulah para pahlawan tanpa tanda jasa. Guru profesional, selain bisa memenuhi standar kualifikasi dan kompetensinya, wajib mengikuti perkembangan trend kependidikan supaya mutu pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas atau di lingkungan sekolah bisa diandalkan. Guru yang profesional tidak pernah berhenti meningkatkan kualitas keilmuannya.
Dalam tatanan administrasi pendidikan di sekolah, guru adalah "mesin-mesin sekolah" yang berada di garis depan dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan kurikulum sekolah. Istilah "mesin sekolah" ini baru saya dengar pada saat rapat dinas tanggal 1 Juli 2009 di aula sekolah di Bojonegoro. Saya sangat tidak sependapat dengan istilah ini. Sungguh menyakitkan bila analogi untuk guru disamakan dengan sebuah mesin. Apalagi ketika pembicaranya menyatakan bahwa guru harus merawat mesinnya dengan baik. "Kalau mesinnya rusak, sebaiknya dibuang saja. Daripada diperbaiki, tentu menghabiskan biaya yang banyak, maka guru yang seperti mesin yang rusak ini dibuang saja. Beli yang baru!" Guru yang dibuang berarti dikembali kepada unit atau kantor yang menetapkan jabatan guru kepada yang bersangkutan--bisa departemen agama maupun departemen pendidikan nasional. Perlakuan terhadap guru semacam ini sungguh sangat menyedihkan dan tidak memenuhi etika dunia kerja.
Guru tetap saja manusia. Sikap profesional guru yang profesional justru muncul ketika rasa kemanusiaan masih dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan.
Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts
August 3, 2009
Guru sebagai mesin sekolah
Labels: guru, leadership, suara guru
June 6, 2009
Jangan marah-marah Pak Guru!
Menghadapi siswa yang bandel sudah menjadi menu sehari-hari bagi seorang guru. Dalam satu hari mengajar bisa dipastikan akan terjadi satu perbedaan persepsi antara guru dan siswa. Konflik muncul lantaran siswa tidak cocok dengan cara guru mengajar, atau sebaliknya guru menjadi tersinggung dengan sikap siswa yang tidak mau mengikuti pelajaran dengan baik. Keduanya merasa yakin dengan sikapnya masing-masing.
Apapun alasannya, sikap marah guru tidak dibenarkan. Tugas guru kan mengajak siswa untuk berubah sikap, terutama terhadap kegiatan belajar. Kalau siswa ternyata, karena sudah merasa dewasa, melakukan sesuatu untuk menunjukkan identitas dirinya maka sudah layak kalau guru bersikap menerima dan mau memahami. Guru boleh menganggap bahwa siswanya tidak ingin mematuhi aturan di kelas. Namun dari sinilah guru bisa bercermin tentang kegiatan mengajar yang direncanakan dan dijalaninya. Mungkin juga perlu ada kompromi tentang kegiatan di kelas.
Subscribe to:
Posts (Atom)